ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
DALAM ISLAM
(IPTEK)
MAKALAH
Di ajukan
sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir semester, mata kuliah P A
I, Semester , Program studi S1 akutansi
STIE
pembangunan Tanjung pinang
Disusun
oleh
Nama :
Nurul Azis Pahlupy
Nim :
13622008
Dosen
pembimbing: Drs. H .Muhammad Idris, DM,MM,MSI
STIE
pembangunan Tanjung pinang
Tanjung
pinang- kepulauan Riau
Tahun
ajaran 2013- 2014
|
|
|
|
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama ALLAH SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, segala puji hanya bagiNya. Semoga sholawat beserta salam senantiasa
tercurahkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan
para sahabatnya, dan juga kepada para pengikutnya yang setia hingga akhir
zaman.
Puji syukur
Alhamdulilah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan segala rahmat,hidayah,inayah-Nya. Sehingga penulisan makalah ini
dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Makalah dengan judul “IPTEK DALAM
ISLAM”
sebagai tugas mata kuliah Agama.
Dalam penulisan makalah ini kami bayak menerima bantuan
bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini ,kami tidak
lupa mngucapkan terima kasih yang sedalam- dalamnnya kepada:.
1. Bapak
Drs. H .Muhammad Idris, DM,MM,MSI selaku dosen mata
kuliah agama.
2.
Orang tua kami yang telah memberikan bantuan materiil dan spirtual.
3.
Teman-teman kami di STIE pembangunan Tanjung pinang umumnya dan kelas P1 akutansi khususnya atas segala bantuannya.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
mahasisa stie
pembanguanan tanjung pinang khususnya kelas P1 akutansi. Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena masih banyak kekurangan
dan kesalahan. Maka penulis menerima
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meyempurnakan makalah ini.
Dengan makalah ini, penulis mengharapkan semoga makalah ini
dapat bermanfaat dan berguna bagi penulis serta pembaca pada umumnya
Nurul Azis Pahlupy
penulis
HALAMAN
JUDUL.................................................................................................................
KATA PENGANTAR
..............................................................................................................
DAFTAR ISI
.............................................................................................................................
PENDAHULUAN
.....................................................................................................................
RUMUMUSAN
MASALAH…………………………………………………………………
TUJUAN………………………………………………………………………………………
LINGKUP
KAJIAN…………………………………………………………………………..
BAB I
PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN
TEKNOLOGI.......................................................
1.
Pengertian Iptek
....................................................................................................................
a.
Definisi Iptek .......................................................................................................................
b.
Pelaksanaan dan Perkembangan Iptek di Indonesia.............................................................
c.
Dampak Negatif Iptek
.........................................................................................................
BAB II
IPTEK MENURUT ISLAM
................................................................................,,……….
a. Iptek Menurut Islam
...........................................................................................................
b. Kewajiban Mencari Ilmu
..................................................................................................
c. Interaksi Iman, Ilmu,
dan Amal
........................................................................................
d. Keutamaan Orang Yang
Berilmu.......................................................................................
e. Penyikapan Terhadap
Iptek ...............................................................................................
f.
Keselarasan IMTAQ dan IPTEK .......................................................................................
BAB III
KONTRIBUSI IPTEK DAN SENI BAGI
DAKWAH ISLAM.............................................
Kontribusi Terhadap Dakwah islam.....................................................................................
PENUTUP................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
.............................................................................................................
PENDAHULUAN
Peran Islam
dalam perkembangan iptek pada dasarnya ada 2 (dua). Pertama, menjadikan Aqidah
Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma inilah yang seharusnya
dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang.
Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan
pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti
menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan
menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai
dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan
dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua, menjadikan Syariah
Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek
dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang
digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme)
seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya
pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah
Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan iptek jika telah dihalalkan oleh Syariah
Islam. Sebaliknya jika suatu aspek iptek dan telah diharamkan oleh Syariah,
maka tidak boleh umat Islam memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat
sesaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh perdaban barat satu
abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia.
Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh
perkembangan iptek modern membuat orang lalu mengagumi dan meniru- niru gaya
hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis trhadap segala dampak
negatif yang diakibatkanya.
Pada dasarnya
kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada banyak
cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan menuntut ilmu.
Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW: “ menuntut
ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”.
Ilmu adalah kehidupanya islam dan kehidupanya keimanan
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar
belakang diatas, maka timbul beberapa permasalahan. Yaitu :
1.
Bagaimana pandangan Islam terhadap Ipteks saat ini?
2.
Bagaimana Ipteks menurut pandangan islam secara umum?
3. Bagaimana peran Islam
dalam perkembangan Ipteks?
TUJUAN
Untuk
mengetahui pandangan islam terhadap ipteks, dan mengetahui perkembangan islam
dalam ipteks
LINGKUP KAJIAN
Sesuai dengan tujuan diatas, maka kami
menentukan lingkup kajiannya hanya konsep ipteks dalam islam dan
perkembangannya.
BAB I
PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
(IPTEK)
1.
Pengertian Iptek
A.
Definisi Iptek
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua
sosok yg tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yg
mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide.
Adapun teknoogi adl terapan atau aplikasi dari ilmu yg dapat ditunjukkan dalam
hasil nyata yg lbh canggih dan dapat mendorong manusia utk berkembang lbh maju
lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis utk
mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Alquran sebab
kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Seperi kita ketahui, teknologi kini
telah merembet dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas
hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau
jalan di dalam mewudkan kesejahteraan dan meningkatkan harkat dan martabat
manusia. Atas dasar kreatifitas, akalnya, manusia mengembangkan iptek dalam
rangka untuk mengolah SDA yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dimana
dalam pengembangan iptek harus didasari terhadap moral dan kemanusiaan yang
adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecam IPTEK secara merata. Disatu sisi telah terjadi
perkembangan yang sangat baik sekali di aspek telekomunikasi, namun pelaksanaan pembangunan IPTEK masih belum merata.
Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi. Hal itu
dikarenakan tingginya biaya
pendidikan yang harus mereka tanggung. Maka dari itu pemerintah perlu menyikapi dan menanggapi masalah-masalah
tersebut, agar peranan IPTEK dapat bertujuan untuk meningkatkan SDM yang ada.
Perkembangan IPTEK disamping bermanfaat untuk kemajuan hidup Indonesia juga memberikan dampak negatif. Hal yang perlu
diperhatikan dalam penerapan IPTEK untuk menekan dampaknya seminimal mungkin
antara lain:
1.
Menjaga keserasian dan keseimbangan dengan lingkungan setempat.
2.
Teknologi yang akan diterapkan hendaknya betul-betul dapat mencegah timbulnya
permasalahan di tempat itu.
3.
Memanfaatkan seoptimal mungkin segala sumber daya alam dan sumber daya manusia
yang ada.
Dengan perkembangan dan kemajuan
zaman dengan sendirinya pemanfaatan dan penguatan iptek mutlak diperlukan untuk
mencapai kesejahteraan
bangsa. Visi dan Misi iptek dirumuskan sebagai paduan untuk mengoptimalkan
setiap sumber daya iptek yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.Undang-undang
No.18 Tahun2002 tentang Sistem Nasional Penelitiha, Pengembangan dan Penerapan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang yelah berlaku sejak 29 Juli 2002, merupakan
penjabaran dari visi dan misi Iptek sebagaimana termaksud dalam UUD 1945
Amandemen pasal 31 ayat 5, agar dapat dilaksanakan oleh pemerintah beserta
seluruh rakyat dengan sebaik baiknya. Selain itu pula perkembangan iptek di
berbagai bidang di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat semestinya
dapat meningkatkan kualitas SDM di tengah bermunculannya dampak negatif dari
adanya perkembangan iptek, sehingga diperlukan pemikiran yang serius dan mantap
dalam menghadapi permasalahan dalam penemuan-penemuan baru tersebut.
B.
Pelaksanaan Dan Pengembangan Iptek di Indonesia
Peradaban bangsa dan masyarakat
dunia di masa depan sudah di pahami dan disadari akan berhadapan dengan situasi
yang serba kompleks dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, sebut saja antara
lain: cloning, cosmology, cryonics, cybernities, exobiology, genetik,
engineering dan nanoteknology. Cabang-cabang Iptek itu telah memunculkan
berbagai perkembangan yang sangat cepat
dan implikasi yang menguntungkan bagi manusia atau sebaliknya.
Untuk mendayagunakan Iptek diperlukan nilai-nilai
luhur agar dapat dipertanggung jawabkan.
Rumusan 4 nilai luhur pembangunan Iptek nasional.
1.
Accountable, penerapan Iptek harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara
moral, lingkungan, finansial bahkan dampak politis.
2.
Visionary, pembangunan ipek memberikan solusi strategis dan jangka panjang,
tetapi taktis dimana kini tidak bersifat sektoral dan hanya memberi implikasi
terbatas.
3.
Innovative, asal katanya adalah “innovere” yang artinya temuan baru yang
bermanfaat. Nilai luhur dari pembangunan iptek artinya dapat berorientasi pada
segala sesuatu yang baru, dan memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya untuk
memproduksi inivasi baru dalam upaya inovatif untuk mendapatkan produktifitas.
4.
Excellence, keseluruhan tahapan pembanguna iptek mulai dari fase inisiasi,
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, implikasi pada bangsa harus
baik, yang terbaik atau berusaha menuju
terbaik. Pesatnya kemajuan iptek untek memperkuat posisi daya saing Indonesia
dalam kehidupan global.
C.
Dampak Negatif Iptek
Bagi
masyarakat sekarang iptek sudah
merupakan suatu religion. Pengembangan
iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang
bahkan memuja iptek lebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari
kungkungan kefanaan dunia. Iptek yakina
akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan
iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusiatidak dapat dipungkiri. Namum
manusia tidak bisa menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan
malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.Dalam peradaban modern yang muda,
terlalu sering manusia terhenyak oloh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia. Kalaupun
ipek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti
iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan.
Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan objektif.
Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal
unsur kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa menjadi standar
kebenaran ataupun solusi dari masalah-maslah kemanusiaan. Dari segala dampak
terburuk dari perkembangan iptek adalah dampak terhadap peri laku dari manusia
penciptanya. Iptek telah membuat sang penciptanya di hinggapi sifat over
confidence dan superiotas tidak saja terhadap alam melainkan pula terhadap
sesamamya. Eksploitasi terhadap alam dan dominasi pihak yang kuat(negara barat)
terhadap negara yang lemah (negara dunia ketiga) merupakan ciri yang melekat
sejak lahirnya revolusi industri.
BAB II
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI MENURUT ISLAM
1. Iptek Menurut Islam
Peran Islam dalam perkembangan iptek adalah bahwa
Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram
(hukum-hukum syariah islam) wajib dijadikan tolok ukur dan pemanfaatan iptek,
bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah
islam. Sedangkan Iptek yang tidak boleh dimanfaatkan adalah yang telah
diharamkan. Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah
SWT sumber segala kebaikan, Keindahan, dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT hanya akan muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan
terhadap Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat
(manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi
kemanusiaan,sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari,
mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan
kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuandan teknologi.
Berbeda dengan pandangan Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk
mementingkan duniawi, maka Islam mementingkan penguasaan Iptek untuk menjadi
sarana ibadah atau pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat
Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada
manusia dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Ada lebih dari 800 ayat dalam
Al-Quran yang mementingkan proses
perenungan, pemikiran, dan pengamatan tehadap berbagai gejala alam, untuk di
tafakuri dan menjadi bahan dzikir kepada Allah.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam
yang menentang fakta ilmiah, maka kemumgkinan yang salah adalah pemahaman dan
tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ilmu pengetahuan yang
menentang prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran
filosofis atau paradigma materialisme yang beradadi balik wajah ilmu
pengetahuan modern tersebut. Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu
pengetahuan dan ayat-ayat suci Tuhan( Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah SAW yang
di pelajari melalui agama adalah sama-sama ayat (tanda-tanda dan perwujudan )
Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya
berasal dari satu sumber sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh
Alam Semesta.
a. Kewajiban Mencari Ilmu
Pada dasarnya kita hidup didunia ini tidak lain adalah
untuk beribadah kepada Allah. Tentunya beribadah dan beramal harus berdasarkan
ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tidak akan tersesat bagi siapa saja
yang berpegang teguh dan sungguh-sungguh perpedoman pada Al-Qur’an dan
Al-Hadist.
Disebutkan dalam hadist, bahwasanya ilmu yang wajib dicari seorang muslim ada 3, sedangkan yang lainnya akan menjadi fadhlun (keutamaan). Ketiga ilmu tersebut adalah ayatun muhkamatun (ayat-ayat Al-Qur’an yang menghukumi), sunnatun qoimatun (sunnah dari Al-hadist yang menegakkan) dan faridhotun adilah (ilmu bagi waris atau ilmu faroidh yang adil)
Disebutkan dalam hadist, bahwasanya ilmu yang wajib dicari seorang muslim ada 3, sedangkan yang lainnya akan menjadi fadhlun (keutamaan). Ketiga ilmu tersebut adalah ayatun muhkamatun (ayat-ayat Al-Qur’an yang menghukumi), sunnatun qoimatun (sunnah dari Al-hadist yang menegakkan) dan faridhotun adilah (ilmu bagi waris atau ilmu faroidh yang adil)
Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “ mencari
ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain
yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata dan emas pada babi hutan.”(HR. Ibnu Majah dan lainya)
Juga pada hadist rasulullah yang lain,”carilah ilmu
walau sampai ke negeri cina”. Dalam hadist ini kita tidak dituntut mencari
ilmu ke cina, tetapi dalam hadist ini rasulullah menyuruh kita mencari ilmu
dari berbagai penjuru dunia. Walau jauh ilmu haru tetap dikejar.
Dalam kitab “ Ta’limul muta’alim” disebutkan
bahwa ilmu yang wajib dituntut trlebih dahulu adalah ilmu haal yaitu ilmu yang
dseketika itu pasti digunakan dal diamalkan bagi setiap orang yang sudah
baligh. Seperti ilmu tauhid dan ilmu fiqih. Apabila kedua bidang ilmu itu telah
dikuasai, baru mempelajari ilmu-ilmu lainya, misalnya ilmu kedokteran, fisika,
matematika, dan lainya.
Kadang-kadang orang lupa dalam mendidik anaknya,
sehingga lebih mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu agama. Maka anak
menjadi orang yang buta agama dan menyepelekan kewajiban-kewajiban agamanya.
Dalam hal ini orang tua perlu sekali memberikan bekal ilmu keagamaan sebelum
anaknya mempelajari ilmu-ilmu umum.
Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda, “sedekah
yang paling utama adalah orang islam yang belajar suatu ilmu kemudian diajarkan
ilmu itu kepada orang lain.”(HR. Ibnu Majah)
Maksud hadis diatas adalah lebih utama lagi orang yang
mau menuntut ilmu kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah yang paling utama dibanding sedekah harta benda. Ini dikarenakan mengajarkan ilmu, khususnya
ilmu agama, berarti menenan amal yang muta’adi (dapat berkembang) yang
manfaatnya bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu sendiri, tetapi dapat
dinikmati orang lain
b.
Interaksi iman, ilmu dan amal
Dalam
pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat
hubungan yang harmonis dan dinamis yang terinteraksi ke dalam suatu sistem yang
disebut dinul Islam, didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu akidah,
syariah, dan akhlak dengan kata lain iman, ilmu dan amal shaleh.
Islam
merupakan ajaran agama yang sempurna, karena kesempurnaannya dapat tergambar
dalam keutuhan inti ajarannya. Di dalam al-Qur’an dinyatakan yang artinya
“Tidaklah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik (dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh
(menghujam kebumi) dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu mengeluarkan
buahnya setiap muslim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka ingat”.
Dari
penjelasan tersebut di atas menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu dan amal
atau syariah dan akhlak dengan menganalogikan dinul Islam bagaikan sebatang
pohon yang baik. Ini merupakan gambaran bahwa antara iman, ilmu dan amal
merupakan suatu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan antara satu sama
lain. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menupang tegaknya
ajaran Islam, ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan. Dahan dan
cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu
ibarat dengan teknologi dan seni. IPTEKS yang dikembangkan di atas nilai-nilai
iman dan ilmu akan menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan alam.
c. Keutamaan orang yang berilmu
Orang yang berilmu mempunyai
kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah dan masyarakat. Al-Quran
menggelari golongan ini dengan berbagai gelaran mulia dan terhormat yang
menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di sisi Allah SWT dan
makhluk-Nya. Mereka digelari sebagai “al-Raasikhun fil Ilm” (Al Imran :
7), “Ulul al-Ilmi” (Al Imran : 18), “Ulul al-Bab” (Al Imran :
190), “al-Basir” dan “as-Sami' “ (Hud : 24), “al-A'limun”
(al-A'nkabut : 43), “al-Ulama” (Fatir : 28), “al-Ahya' “ (Fatir :
35) dan berbagai nama baik dan gelar mulia lain.
Dalam surat
ali Imran ayat ke-18, Allah SWT berfirman:
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
(yang berhak disembah), Yang menegakkan
keadilan. Para Malaikat dan orang- orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan
Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". Dalam ayat ini ditegaskan pada golongan orang berilmu bahwa mereka
amat istimewa di sisi Allah SWT . Mereka
diangkat sejajar dengan para malaikat
yang menjadi saksi Keesaan Allah SWT. Peringatan Allah dan Rasul-Nya sangat
keras terhadap kalangan yang menyembunyikan kebenaran/ilmu, sebagaimana
firman-Nya:
|
|
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami
turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami
menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan
dilaknati pula oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati." (Al-Baqarah: 159) Rasulullah saw juga bersabda: "Barangsiapa
yang menyembunyikan ilmu, akan dikendali mulutnya oleh Allah pada hari kiamat
dengan kendali dari api neraka." (HR Ibnu Hibban di dalam kitab sahih
beliau. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim. Al Hakim dan adz-Dzahabi berpendapat
bahwa hadits ini sahih) Jadi setiap
orang yang berilmu harus mengamalkan ilmunya agar ilmu yang ia peroleh dapat
bermanfaat. Misalnya dengan cara mengajar atau mengamalkan pengetahuanya untuk
hal-hal yang bermanfaat.
d.
Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK
Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah SWT berupa
“alat” untuk mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah :
a. indera, untuk menangkap kebenaran fisik,
b. naluri, untuk mempertahankan hidup dan
kelangsungan hidup manusia secara probadi maupun sosial
c. pikiran dan atau kemampuan rasional yang
mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa,
ilmiah dan filsafi). Akal juga merupakan penghantar untuk menuju kebenaran
tertinggi
d.
imajinasi, daya khayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan
pengetahuannya
e. hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk
dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan
perkembangan IPTEK yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan
antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut. Menurut
Mehdi Ghulsyani (1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK ilmuwan muslim
dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok:
Kelompok
yang menganggap IPTEK moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi
hasil-hasil IPTEK moderen dengan mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang sesuai;
Kelompok
yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan
filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami,
Kelompok
yang percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya.
Untuk kelompok
ketiga ini memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah “islamisasi
ilmu pengetahuan”. Dalam konsep Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang
tegas antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sebab pada dasarnya ilmu
pengetahuan yang dikembangkan manusia merupakan “jalan” untuk menemukan
kebenaran Allah itu sendiri. Sehingga IPTEK menurut Islam haruslah bermakna
ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk IPTEK yang
mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat manusia
secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan membawa manusia
ketingkat yang lebih rendah martabatnya.
Dari uraian
di atas “hakekat” penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami
adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan
meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT. Kebenaran IPTEK menurut Islam
adalah sebanding dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri.
IPTEK akan bermanfaat apabila:
a.
Mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya
b.
Dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik),
c.
Dapat memberikan pedoman bagi sesama,
d.
Dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat
dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.
e. Keselarasan
IMTAQ dan IPTEK
“Barang siapa ingin menguasai dunia dengan ilmu,
barang siapa ingin menguasai akhirat dengan ilmu, dan barang siapa ingin
menguasai kedua-duanya juga harus dengan ilmu” (Al-Hadist). Perubahan lingkungan
yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek), harus diakui telah memberikan kemudahan
terhadap berbagai aktifitas dan kebutuhan hidup manusia. Di sisi lain,
memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku khususnya para pelajar
dan generasi muda kita, dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru yang cenderung
menjauh dari nilai-nilai spiritualitas. Semuanya ini menuntut perhatian ekstra
orang tua serta pendidik khususnya guru, yang kerap bersentuhan langsung dengan
siswa.
Dari sisi positif, perkembangan iptek telah
memunculkan kesadaran yang kuat pada sebagian pelajar kita akan pentingnya
memiliki keahlian dan keterampilan. Utamanya untuk menyongsong kehidupan masa
depan yang lebih baik, dalam rangka mengisi era milenium ketiga yang disebut
sebagai era informasi dan era bio-teknologi. Ini sekurang-kurangnya telah
memunculkan sikap optimis, generasi pelajar kita umumya telah memiliki kesiapan
dalam menghadapi perubahan itu. Don Tapscott, dalam bukunya Growing up Digital
(1999), telah melakukan survei terhadap para remaja di berbagai negara. Ia
menyimpulkan, ada sepuluh ciri dari generasi 0 (zero), yang akan mengisi masa
tersebut. Ciri-ciri itu, para remaja umumnya memiliki pengetahuan memadai dan
akses yang tak terbatas. Bergaul sangat intensif lewat internet, cenderung
inklusif, bebas berekspresi, hidup didasarkan pada perkembangan teknologi,
sehingga inovatif, bersikap lebih dewasa, investigative arahnya pada how use
something as good as possible bukan how does it work.
Sikap optimis terhadap keadaan sebagian pelajar ini
tentu harus diimbangi dengan memberikan pemahaman, arti penting mengembangkan
aspek spiritual keagamaan dan aspek pengendalian emosional. Sehingga tercapai
keselarasan pemenuhan kebutuhan otak dan hati (kolbu). Penanaman kesadaran
pentingnya nilai-nilai agama memberi jaminan kepada siswa akan kebahagiaan dan
keselamatan hidup, bukan saja selama di dunia tapi juga kelak di akhirat. Jika
hal itu dilakukan, tidak menutup kemungkinan para siswa akan terhindar dari
kemungkinan melakukan perilaku menyimpang, yang justru akan merugikan masa
depannya serta memperburuk citra kepelajarannya. Amatilah pesta tahunan pasca
ujian nasional, yang kerap dipertontonkan secara vulgar oleh sebagian para
pelajar. Itulah salah satu contoh potret buram kondisi sebagian komunitas
pelajar kita saat ini. Untuk itu, komponen penting yang terlibat dalam
pembinaan keimanan dan ketakwaan (imtak) serta akhlak siswa di sekolah adalah
guru. Kendati faktor lain ikut mempengaruhi, tapi dalam pembinaan siswa harus
diakui guru faktor paling dominan. Ia ujung tombak dan garda terdepan, yang
memberi pengaruh kuat pada pembentukan karakter siswa. Kepada guru harapan
tercapainya tujuan pendidikan nasional disandarkan. Ini sebagaimana termaktub
dalam Pasal 3 Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Intinya, para pelajar kita disiapkan agar menjadi manusia beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri. Sekaligus jadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab.
Tujuan pendidikan sebenarnya mengisyaratkan, proses
dan hasil harus mempertimbangkan keseimbangan dan keserasian aspek pengembangan
intelektual dan aspek spiritual (rohani), tanpa memisahkan keduanya secara
dikhotomis. Namun praktiknya, aspek spiritual seringkali hanya bertumpu pada
peran guru agama. Ini dirasakan cukup berat, sehingga pengembangan kedua aspek
itu tidak berproses secara simultan. Upaya melibatkan semua guru mata ajar agar
menyisipkan unsur keimanan dan ketakwaan (imtak) pada setiap pokok bahasan yang
diajarkan, sesungguhnya telah digagas oleh pihak Departeman Pendidikan Nasional
maupun Departemen Agama. Survei membuktikan, mengintegrasikan unsur ‘imtaq’
pada mata ajar selain pendidikan agama adalah sesuatu yang mungkin. Namun dalam
praktiknya, target kurikulum yang menjadi beban setiap guru yang harus tuntas
serta pemahaman yang berbeda dalam menyikapi muatan-muatan imtaq yang harus
disampaikan, menyebabkan keinginan menyisipkan unsur imtak menjadi terabaikan.
Memang tak ada sanksi apapun jika seorang guru selain guru agama tidak
menyisipkan unsur imtaq pada pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Jujur
saja guru umumnya takut salah jika berbicara masalah agama, mereka mencari aman
hanya mengajarkan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Sesungguhnya ia bukan sekadar tanggung jawab guru
agama, tapi tanggung jawab semuanya. Dalam kacamata Islam, kewajiban
menyampaikan kebenaran agama kewajiban setiap muslim yang mengaku beriman
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
BAB III
Kontribusi Iptek Bagi Dakwah Islam
Kontribusi Terhadap Dakwah
Kontribusi
adalah kesejahteraan dan kemakmuran
material (fisikal) yang di hasilkan oleh perkembangan iptek moderen
membuat orang mengagumi meniru gaya hidup peradaban orang barat samapidi
barengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif yang diakibatkannya, bukan hanya bidang iptek
saja tetapi dalam bidang seni juga.
Dalam kontribusi iptek dalam dakwah islam banyak memberikan
perkembangan di dalam dakwahnya, misalnya pada jaman dahulu ketika para ulama
di pulau jawa menyebarkan ajaran agama Islam mereka menyebarkan dakwahnya
melalui kesenian wayang yang isinya tentang ajaran-ajaran agama Islam.
Pada saat ini kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi sudah sangat maju, di buktikan dengan adanya
penemuan-penemuan baru yang fungsinya untuk memudahkan segala aktifias manusia,
begitu juga kemudahan dalam derdakwah bagi para ulama. Ada banyak hal yang sudah dihasilkan oleh teknologi untuk dakwah Islam
sebagai bagian dari integrasi itu sendiri, Al Quran digital, akses hadist
shahih yang bisa dilakukan dimana saja,silahturahmi yang tidak pernah putus
karena sudah ada HP, jejaring sosial dan sebagainya. Bahkan media pembelajaran
yang menyenangkan dengan menggunakan game untuk memperdalam ilmu Islam itu
sendiri.
Contok-contoh Kontribusi Iptek bagi
dakwah Islam
Perkembangan busana muslim seperti
jilbab
Media dakwah di televisi, internet,
koran, dan majalah
Penggunaan internet, blog, dan situs
Islami sepertisuara Islam, Muslim
PENUTUP
Perkembangan iptek adalah hasil
dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan
mengembangkan iptek itu sendiri. Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa
peran Islam yang utama dalam perkembangan iptek dan seni setidaknya ada 2
(dua). Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma pemikiran dan ilmu
pengetahuan. Kedua, menjadikan syariah Islam sebagai standar penggunaan
iptek dan seni. Jadi, syariah Islam-lah, bukannya standar manfaat
(utilitarianisme), yang seharusnya dijadikan tolok ukur umat Islam dalam
mengaplikasikan iptek dan seni.
Untuk itu setiap muslim harus bisa memanfaatkan alam
yang ada untuk perkembangan iptek dan seni, tetapi harus tetap menjaga dan
tidak merusak yang ada. Yaitu dengan cara mencari ilmu dan mengamalkanya dan
tetap berpegang teguh pada syari’at Islam.
Saran
Untuk
mengembangkan IPTEKS harus kita dasar dengan keimanan dan ketakwaan kepada
Allah swt agar dapat memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan serta
lingkungan sekitar kita.
DAFAR
PUSTAKA
Munawar, Said Aqil, 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki.
Jakarta : Ciputat Press
Shihab, Quraish, 1999. Mukjizat Al-Quran. Bandung :Mizan
[1]
Prof. DR. H. Said Aqil Munawar, MA, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan
Hakiki, Ciputat Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002, hal. 31